SOLO – PT Peka Merawat Negeri (PEMATRI) kembali berbangga atas pencapaian mitra ahlinya di kancah internasional. Pada tanggal 10 hingga 12 Agustus 2026, Prof. Tantut Susanto, Ph.D., yang juga merupakan Guru Besar Keperawatan dari Fakultas Keperawatan Universitas Jember, hadir memenuhi undangan sebagai presenter oral sekaligus pembicara pleno (plenary speaker) dalam ajang The 9th Human Rights Conference. Acara bergengsi yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta ini mengusung tema besar "Peace, security, and environmental justice in Asia: Advancing human dignity for sustainable futures".

Prof. Tantut Susanto Human Rights Conference UNS
Prof. Tantut Susanto, Ph.D. saat menyampaikan presentasi di The 9th Human Rights Conference di UNS.

Konferensi ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara University of Sydney, Universitas Sebelas Maret (UNS), Indonesian Consortium for Human Rights Lecturers (SEPAHAM) Indonesia, dan The Centre for Human Rights Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember. Konferensi hak asasi manusia tahunan ini bertujuan untuk menyatukan para akademisi, peneliti, praktisi, organisasi masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan guna mendiskusikan isu-isu kontemporer mengenai kusta, martabat manusia, kesetaraan, dan perlindungan hak asasi manusia.

Sesi Pleno Human Rights Conference
Sesi Pleno The 9th Human Rights Conference yang dihadiri peneliti dan akademisi internasional.

Secara khusus, Prof. Tantut hadir mewakili No Leprosy Remains (NLR) Indonesia. Pada sesi pleno tanggal 12 Agustus 2026, beliau membawakan topik utama bertajuk "Protection of Vulnerable People: the Case on Leprosy in Indonesia". Dalam kesempatan yang berharga tersebut, beliau membagikan wawasan mendalam melalui pemaparannya tentang "Eliminating Discrimination Against Vulnerable Groups of Leprosy: Addressing Social Stigma, Disability, and Motivation for Healing in Rural Communities". Beliau menyoroti bahwa stigma sosial yang mendalam kerap menghambat proses pengobatan dan mengisolasi pasien, yang berujung pada tingginya angka putus obat (dropout) pengobatan di daerah pedesaan, yang tercatat mencapai 73,1%.

Pemaparan Stigma Kusta
Pemaparan data dan strategi eliminasi diskriminasi terhadap kelompok rentan kusta.

Lebih lanjut, forum ini juga menjadi wadah diskusi penting mengenai "Climate Change, Leprosy, and Human Rights in the Tropics". Prof. Tantut menegaskan bahwa perubahan iklim semakin memperburuk tantangan yang dihadapi oleh orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Perubahan cuaca ekstrem dan peningkatan suhu dinilai dapat mempercepat kerusakan saraf, memperburuk luka kulit, dan meningkatkan risiko kecacatan yang saling berkaitan dengan lambatnya deteksi dini.

Foto Bersama Pembicara Pleno
Foto bersama penyelenggara dan pembicara pleno The 9th Human Rights Conference.

Mewakili keluarga besar PEMATRI dan kapasitas profesionalnya, diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada NLR Indonesia atas kepercayaan yang diberikan kepada Prof. Tantut untuk mewakili organisasi dalam membahas isu-isu kemanusiaan terkait penyandang kusta. Diharapkan kerja sama dan kolaborasi ini akan terus berjalan sukses demi mewujudkan masa depan yang berkelanjutan, inklusif, dan bebas dari diskriminasi bagi seluruh kelompok rentan di Indonesia.